home Kampus Mengingat Penertiban PKL Dayang Sumbi Tahun 2013

Mengingat Penertiban PKL Dayang Sumbi Tahun 2013

Ganecapos.com — Penertiban PKL Dayang Sumbi dilancarkan pada Minggu malam (12/7). Penertiban yang disambut oleh aksi heroik mahasiswa ini sebenarnya bukan hal baru, akan tetapi sudah sejak tahun 2013 silam. PKL Dayang Sumbi sudah berada di kios-kios mereka sejak tahun 1980-an. Hingga pada tahun 2013, terjadi aksi penertiban oleh aparat pemerintah, yang kisahnya juga lebih kurang sama dengan yang terjadi sekarang ini (2015). Disarikan dari catatan diskusi Hussein Abdul Salam (MA’10) bersama HIMATIKA ITB, berikut ini kronologinya.

Pada 8 Januari 2013, Pemerintah Kota Bandung membuat Peraturan Walikota tentang Penataan PKL di Bandung. Untuk menegakkan peraturan tersebut, dibentuk Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Penataan PKL yang dipimpin oleh Wakil Walikota Bandung Ayi vivanda.
Pada hari tersebut hingga esok harinya, 9 Januari 2013, PKL Dayang Sumbi bersama Komitmen Peduli Jawa Barat (KPJB) menemui Wakil Walikota Bandung Ayi Vivanda. Beliau menegaskan bahwa tidak akan ada pembongkaran di Dayang Sumbi dan pedagang disilakan berdagang esok harinya, 10 Januari 2013.
Akan tetapi, pada tanggal 10 Januari 2013, Satpol PP mengerahkan satuannya untuk menertibkan PKL Dayang Sumbi. Sebelum Satpol PP datang, PKL Dayang Sumbi yang dipimpin oleh sekretarisnya, Pak Dede, melakukan briefing.

“Kata Pak Ayi tidak akan ada penggusuran di Dayang Sumbi, Kita jaga sebisa kita dan tidak boleh anarkis, percaya aja apa kata wakil walikota, masa wakil walikota berbohong,” kata Pak Dede.

Menurut Peraturan Walikota, setiap ada penertiban harus ada relokasi dan kompensasi. PKL Dayang Sumbi mengaku belum mendapat dialog terkait kedua hal ini dari pihak Pemkot sehingga PKL Dayang Sumbi tidak ingin ditertibkan. Namun apa daya, penertiban tetap dilakukan.
Tengah hari, Satpol PP selesai melakukan penertiban, tidak dilakukan pembersihan dan warga terlihat masih berdiskusi, ada yang pingsan, ada yang membersihkan lapak dagangannya karena banyak barang dagangan masih ada di dalam warung.

Siang hari, Andi Bhatara membawa terpal-terpal besar dan membuat pernyataan akan tetap berdiam di lokasi sampai keadilan dicapai. Terpal besar dijadikan tenda sementara, barang-barang ditumpuk di sekitar tenda. Malam hari forum diadakan bersama warga di bawah tenda dan dipimpin Bhatara guna mendorong masyarakat untuk tetap melawan dan membangun kembali lapak sementara menggunakan bambu.

Esok harinya, 11 Januari 2013, ada pertemuan PKL Dayang Sumbi-KPJB dan Pemkot Bandung. Pemkot menjelaskan kronologis penertiban PKL Dayang Sumbi. Pak Ayi menunjukkan surat permohonan dari ITB untuk menertibkan PKL Dayang Sumbi.
PKL Dayang Sumbi mengajukan 3 solusi untuk mereka :

  1. Membangun sementara lapaknya
  2. Berjualan di dalam kampus ITB
  3. Relokasi di dekat kampus

Kemudian, Pak Ayi Vivanda meminta mahasiswa untuk memberikan solusi. Pagi hari warga sudah membersihkan sendiri puing-puing penggusuran, Bhatara mulai mengonstruksikan lapak sementara dan menjelaskan kepada PKL setempat. Pembangunan lapak pun dimulai sampai sore hari.

Pada tanggal 15 Januari 2013, diadakan pertemuan di Balaikota Bandung. Pemkot menjelaskan tentang Peraturan Walikota tentang Penataan PKL di Bandung kepada jajaran pemerintahan, perwakilan PKL, dan instansi-instansi terkait. Dalam pertemuan ini memang tidak ada agenda khusus membahas PKL Dayang Sumbi.
Dalam pertemuan ini ada beberapa hal yang terungkap, yaitu:

  1. ITB telah memberikan surat permohonan penertiban PKL kepada Pemkot Bandung dan telah mendapat persetujuan (tanda tangan) Walikota Bandung Dada Rosada jauh sebelum tanggal 8 Januari 2013 (Pengesahan Satgas).
  2. Wakil Walikota Bandung selaku Ketua Satgassus penataan PKL di Bandung mengaku tidak mengetahui hal tersebut.
  3. ITB juga menjelaskan rencana pembangunannya dalam rangka mewujudkan World Class University. ITB akan membangun kawasan parkir Kebun Binatang Bandung menjadi kawasan parkir terpadu, dimana PKL akan ditempatkan di sana.
  4. Pemkot berencana merelokasi PKL Dayang Sumbi ke Gelap Nyawang.

Pertemuan berakhir pada pukul 13.00, dan berlanjut pertemuan di Bappeda. Pertemuan ini khusus membahas PKL Dayang Sumbi. Lurah Lebak Siliwangi, Camat Coblong, Kepala Bappeda, PKL, KPJB, ITB, dan KM ITB. Pada pertemuan ini, Kepala Bappeda memimpin pertemuan, beliau meminta pendapat dari berbagai pihak.
KPJB mewakili PKL Dayang Sumbi berpendapat bahwa PKL belum mendapat kepastian. PKL ingin ada solusi tempat relokasi sementara. Mulai hari besok, PKL ingin berjualan dengan memperhatikan kebersihan dan kenyamanan.
ITB diwakili Ibu Putik dari Direktorat Pengembangan menyatakan bahwa ITB bertekad mengurangi beban lingkungan dengan adanya ITB. PKL Ganesha akan ditempatkan di Gelap Nyawang, PKL Dayang Sumbi akan ditempatkan di Kebun Binatang Bandung. Daerah Dayang Sumbi itu zona merah menurut Peraturan Walikota. ITB bersama Alumni ITB akan memberikan dana untuk mengangkut barang.
KM ITB yang diwakili Anjar Dimara Sakti mengatakan bahwa KM ITB akan merumuskan solusi untuk relokasi sementara untuk PKL Dayang Sumbi. PKL Dayang Sumbi akan ditempatkan di pakir atas Sabuga atau Gelap Nyawang. Rencananya untuk relokasi sementara.
Sementara itu, dari pedagang menyatakan mendukung rencana pembangunan ITB. Sayangnya, menurut mereka, pedagang tidak diajak dialog. Pedagang juga telah bicara dengan rektorat ITB dan katanya tidak ada pembongkaran. Pedagang ingin tetap berjualan besok.

Pada 17 Januari 2013, terlihat kegiatan pemasangan bambu-bambu untuk berjualan lagi di lokasi. PKL Dayang Sumbi dibantu oleh mahasiswa Seni Rupa. Pikiran Rakyat terbit dan memuat berita “PKL Dayang Sumbi Setuju Dipindah”. PKL Dayang Sumbi semakin geram dengan KM ITB.
Melalui Anjar Dimara, KM ITB mendatangi rektorat dan menjelaskan bahwa selama ini ITB dan PKL Dayang Sumbi berkomunikasi lewat Pak Usin yang saat itu adalah koordinator PKL Dayang Sumbi. Ternyata saat datang surat peringatan kedua Pak Usin diganti. Anjar juga menjelaskan perihal berita di Harian Pikiran Rakyat. Kenyataannya, PKL tidak setuju dengan pemindahan ke parkir atas Sabuga.
Rektorat ITB sangat setuju dengan relokasi ke parkir atas Sabuga. ITB menilai bahwa tanah parkiran itu tanah milik Pemkot Bandung.
KM ITB mendatangi Bhatara, Bhatara menilai PKL Dayang Sumbi akan setuju tergantung KPJB, selanjutnya KM ITB ke Ketua PJB Lili. Pak Lili masih curiga dengan keputusan Pemkot. Beliau menanyakan status tanah, parkiran, dan pembangunan di sana.

18 Januari 2013, KM ITB ke Bappeda untuk bertemu Kepala Bappeda Arif. Pak Arif mengatakan bahwa telah mengoordinasikan ke dinas terkait. Dinas Pengelolaan Tanah dan Aset setuju karena itu tanah Pemkot Bandung, Dinas Perhubungan merelakan pemasukannya berkurang, dan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya mengakomodasi desain dari ITB.

Hari Sabtu, 19 Januari 2013 rencananya Pak Ayi selaku Ketua Satgassus akan mengunjungi PKL Dayang Sumbi untuk berdialog langsung. Pak Ayi tidak ingin berdialog dengan KPJB.

Pada akhirnya, PKL Dayang Sumbi meneruskan kembali pembangunan lapak-lapaknya. KPJB tetap menjadi LSM yang netral dan memperjuangkan nasib PKL Dayang Sumbi. Pemkot sampai sekarang tidak melakukan kunjungan seperti yang dijanjikan.

Editor : Ikhwanul Muslimin (IF’14)

One thought on “Mengingat Penertiban PKL Dayang Sumbi Tahun 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *